Pacu Itiak
Permainan pacu itiak, sekarang menjadi festival untuk menarik minat wisatawan di Kota Payakumbuh

Pacu Itiak Payakumbuh Kini Jadi Warisan Budaya Indonesia

Posted on

Pacu Itiak dalam bahasa Minangkabau, atau Pacu Itik dalam bahasa Indonesia merupakan permainan tradisi di Sumatera Barat. Kegiatan ini adalah memacu itik terbang dalam satu lintasan.

Konon, olahraga tradisional ini berasal dari daerah Payakumbuh, Limapuluh Kota. Pacu itiak diperkirakan sudah ada sejak tahun 1028. Diperkirakan berasal ketika penggembala itik mendapati beberapa itik berusaha untuk terbang, kemudian memutuskan untuk melatihnya dan kemudian melombakannya.

Kebiasaan ini terus dipertahankan hingga hari ini. Jika dahulu, pacu itiak digelar di sawah, sekarang sudah ke gelanggang.

Biasanya orang banyak menggunakan sapi atau kerbau sebagai hewan yang sering digunakan untuk berpacu, ini tidak, itik yang berpacu. Di sinilah letak keunikan olahraga tradisional ini.

Kegiatan Festival

Dalam pacu itiak ini juga diberikan ketentuan dan peraturan. Itik yang dapat mengikuti lomba mesti itik lokal, betina dan berusia antara 4 6 bulan. Hal yang paling penting adalah itik itik itu tidak bisa terbang, sayapnya tidak boleh berpilin dan arah sayapnya harus ke atas.

Hal yang paling unik dari lomba ini adalah bahwa lomba ini di lakukan di udara, lintasan lombanya dan panjang dari wilayah terbang adalah 800 m, 1600 m, dan 2000 m. Pemenang lomba adalah itik yang bisa terbang dan mencapai garis finis paling awal.

Pacu Itik merupakan sebuah iven pariwisata yang digelar secara berkala setiap tahun,

Melihat keinginan masyarakat yang begitu kuat, pacu itiak dikelola secara profesional untuk mendatangkan wisatawan. Hingga tradisi ini diangkat masuk Calender of Event (CoE) pariwisata Sumbar setiap tahunnya.

Masyarakat Kota Payakumbuh, terutama yang tinggal di Nagari Aua Kuniang, Kecamatan Payakumbuh Selatan, dan Nagari Aia Tabik, Kecamatan Payakumbuh Timur, patut berbangga hati. Sebab, permainan tradisional “pacu itiak” yang mereka warisi dari generasi ke generasi, kini sudah ditetapkan Kemendikbud sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Walau saat ini pacu itiak di Payakumbuh sedang “lesu darah”, bahkan sedang “mati suri” akibat adanya pandemi Covid-19. Namun, masuknya pacu itiak dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang ditetapkan Kemendikbud sejak 9 Oktober 2020, membuat Pemko Payakumbuh ikut bergembira.

Bahkan, pejabat dan staf Disparpora Payakumbuh, ramai-ramai mengirim kabar lewat media sosial, tentang tradisi “pacu itiak” yang berhasil menjadi warisan budaya Indonesia. Sekaligus diakui secara nasional milik masyarakat Payakumbuh.

Kabar ini pun, membuat istri Wali Kota Payakumbuh, Henyy Yusnita Riza, ikut senang dan menyampaikan rasa syukurnya. “Alhamdulillah,” tulis dosen non-aktif ITB itu di grup WhatsApp Pendidikan Payakumbuh, pekan lalu.

Untuk menuju Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, kami menyediakan transportasi jalur darat, bisa menggunakan bus, sewa mobil. Hubungi Rental Mobil Oto Hazel